Menakar Krisis Jatiwaringin: Mengapa Bom Waktu Sampah Tangerang Akhirnya Meledak?

By Admin


Laporan Walhi
nusakini.com, Insiden di TPA Jatiwaringin dalam beberapa waktu terakhir membuktikan bahwa pola pengelolaan sampah konvensional yang bertumpu pada formula "kumpul-angkut-buang" sudah mencapai titik jenuh. Laporan terbaru dari WALHI menegaskan bahwa pertumbuhan populasi yang pesat di Kabupaten Tangerang, jika tidak dibarengi dengan perubahan radikal dalam sistem pengolahan hulu ke hilir, terbukti menciptakan bom waktu ekologis.

Secara teknis, laporan WALHI tersebut menyoroti bertahannya metode open dumping atau pembuangan terbuka sebagai akar masalah utama. Metode ini membiarkan gas metana terperangkap di bawah jutaan ton sampah tanpa sistem pembuangan yang aman. Ketika wilayah ini dihantam fenomena iklim berupa gelombang panas dan cuaca kering ekstrem, area TPA secara otomatis berubah menjadi kawasan rawan kebakaran yang sulit dikendalikan.

Dari perspektif kebijakan, temuan organisasi lingkungan ini mengindikasikan bahwa regulasi mengenai pengurangan sampah dari sumbernya—termasuk penegakan tanggung jawab produsen atas kemasan produk mereka—dinilai masih mandul. Pemerintah daerah selama ini dinilai cenderung mengambil jalan pintas dengan memperluas lahan TPA alih-alih memotong volume sampah sejak dari rumah tangga.

Jika langkah-langkah struktural yang direkomendasikan dalam laporan WALHI—seperti penghentian sistem open dumping, pengetatan jarak aman permukiman, dan implementasi ekonomi sirkular—tidak segera diadopsi secara konsisten, maka program mitigasi bencana iklim di tingkat daerah hanya akan menjadi wacana di atas kertas. (*)